Perjumpaan

Entah apa yang ku rasa malam itu, perasaan aneh mulai mengalir dalam benakku. Langkah demi langkah diiringi dengan obrolan ringan yang membuatku semakin nyaman. Setiap tawa dan senyumnya di akhir obrolan membuatku semakin mabuk kepayang, yang membuatku semakin candu ialah senyumnya yang kian terbayang kala ku jauh darinya. Malam itu, malam yang tak direncanakan, rasa itu datang begitu saja, mengalir bersama semilir angin malam, sungguh indah rencana tuhan.

          Malam itu pun berlalu, aku masih belum mengerti rasa apa yang telah merasuk ke dalam hatiku. Haha, maklum aku masih terbilang baru dalam masalah hati dan wanita. Hingga suatu saat ku coba untuk memulai obrolan via WA, semakin hari semakin nyamanku dibuat nya. Setiapku bertemu dengannya hati ku tak karuan, senang bukan main, apa ini yang di nama kan cinta. Yah, cinta pada pandangan ke dua hehe.

          Pada hari selanjutnya rasa ini makin tak karuan, kumulai beranikan untuk memulai percakapan virtual, face to face tanpa keyword dan emot palsu. Dan mulai dari hari ini, ku putuskan bahwa aku telah menemukan apa yang orang bilang tulang rusuk. Cara berbicara, senyum tawanya, candanya membuatku makin nyaman akan keadaan ini. Dan sialnya, waktu berpisah datang.

          Hari-hari selanjutnya menjadi semakin indah, kala dia membalas perhatian yang telah kuberi. Rasanya tak dapat ku palingkan wajah ku dari senyumnya. Dan di sini terjadi berbagai kejadian yang memalukan. Dimana saat sedang di dekatnya aku sering curi curi pandang ke arah dia. Hahaha  memalukan memang namun hal itu membuatku semakin bahagia kala melihatnya tersenyum manis. Ah, semoga saja senyum itu senantiasa tersemat di wajah nya yang indah, dan andaikan senyum itu untukku, wkwk dasar pshyco.

          Lagi-lagi memang seperti jodoh, di kampus diadakan acara musyawarah himpunan mahasiswa jurusan. Yang secara otomatis kesempatan untuk melihat dan bertemu, serta mencuri pandang ke arahnya kian besar. Hari selanjutnya semakin dekat hubunganku dengan dia, dan yang membuatku semakin luar biasa senangnya kala ia memberiku seporsi nasi bungkus, wkwkwk indahnya, dia pun hadir dengan penampilan berbeda, kacamata tersemat di wajahnya,membuat wajahnya semakin indah, semakin membuat jantung berdegup kencang saat menatap.Ingin kuteriak dan memanggil namanya.

         Seperti hubungan hubungan lain, pasti ada pertengkaran yang terjadi entah karena kurang komunikasi , kurangnya kepercayaan maupun ada salah satu yang mendua. Dan pada kurang harmonisnya hubungan ku dengan dia terjadi memang karena kurangnya komunikasi dan sedikit salah paham. Mungkin memang sudah menjadi sifat wanita bahwa ia tidak akan pernah mau di salahkan, dan memang pada dasarnya , pada hakikatnya dan seharusnya dalam pertengkaran, seorang lelaki sejati atau biasa di sebut “gentleman” tidak sepatutnya menyalahkan wanita, sebaliknya ia harus introspeksi diri serta mengerti bagaimana keadaan wanita.

          Semua itu ku dapat dari dia , dia yang sangat berarti dalam hidupku, yang telah merubah kehidupan kelam dan membosankanku menjadi berarti dan penuh kebahagiaan.

Puisi khusus untuk dirimu

Di ujung kehampaan

Ku menemukan

Seoarang bidadari tak bersayap

Yang hinggap dan menetap

Senyum yang tersemat

Pada wajahnya yang penat

Memabangkitkan semangat

Yang tersendat

Wahai engkau bidadari tak bersayap

Yang membawa cinta dan harap

Wahai engkau bidadari tak bersayap

Ku harap kau menetap

Wahai engkau bidadari tak bersayap

Teruslah menetap

Hingga nanti

Akhir nanti

Saat pengharapan

Berubah menjadi keindahan

kebersamaan

         Perpisahan

         Malam itu,mulanya berjalan biasa dengan aktifitas normal, tak ku rasakan apapun bahkan tak menampakkan pertanda apapun. Suara indahnya masih terdengar menghangatkan kalbu. Hingga pada suatu titik kehampaan, kami sama sama terdiam dalam kecamuk ego dan fikiran masing masing. Pikiran dan ego yang seharusnya tidak datang di saat ku mulai merasa nyaman dengan pilihan yang telah ku buat. Ku kira kisah ini kan terus berjalan mulus, berjalan indah tanpa ada halangan apalagi perpisahan. Ku kira malam itu yang datang hanyalah duri duri dan kerikil, namun ku salah. Ternyata yang datang adalah sebuah celah kecil yang menjadi jurang yang menganga lebar, memisahkan kita, membuat jarak yang begitu jauh yang tak mungkin dapat di dekatkan. Dengan apa harus kusatukan pada kedua lereng jurang ini. Namun ku mulai tersadar, ternyata tak seharusnya aku mengusik ketenangan hati dan jiwa mu, tak seharusnya ku ketuk pintu hatimu yang terbuat dari ribuan butir embun yang dapat pecah sewaktu waktu. Namun, tak kuanggap mencintaimu adalah kesalahan, kuanggap sebagai rahmat dari tuhanku, kuanggap sebagai kenangan yang senantiasa terpatri dalam jiwa, membekas dalam memori. Senyummu, tawamu, indah bola matamu akan senantiasa ku rindu. Namun rasa yang ku rasa saat ini takkan pernah mendorongku mengulang kisah indah bersamamu, selamanya, akan senantiasaku simpan kau sebagai masa lalu, tanpa harus ku jadikan masa depan.

Senyum mu yang ku rindu, tak lagi kau tampakkan

Meski hati merindu , takkan bisa tersampaikan

T’lah patah pengharapan, berganti kekecewaan

Matahari cinta telah terbenam untuk selama lamanya

Takkan muncul rembulan di waktu yang

Namun bersisa angin rindu yang kian menerpa

Merasuk menusuk sukma

Mencumbu jiwa nan sengsara

Tak tersisa lagi bahagia

Yang tinggal hanya duka

Tak kuharap lagi senyum mu kini

Tak kutunggu lagi tawa mu kini

Bukan karena hati benci

Namun hati sudah lelah tersakiti

Matahari ku yang terbit namun tenggelam lagi

Hanya kenangan bersama cahaya mu yang tersimpan

Tanpa belaian kehangatan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *