Karya : Erliza Aulia

Aku yang tak pernah kamu lihat,

Aku yang selalu menantikan kehadiranmu,

Aku disini, tanpa kamu tau…

Aku memang bukan murid terkenal, yang tak pernah diketahui banyak orang. Tapi aku tau kamu, kamu yang selalu duduk di sudut taman itu. Entah apa yang sedang kamu lakukan. Rasa untuk menghampiri dirimu itu terlalu besar, tapi aku menolak mundur untuk mencoba menyapa dirimu.

Seperti biasa, aku selalu menemukanmu di sana. Menggenggam smart-phone terkini yang kamu miliki. Ntah apa yang sedang kamu lihat di layar smart-phone mu itu. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan, di anak tangga aku duduk memandang dirimu. Kebetulan aku juga sedang menunggu teman dekat ku datang menghampiri, untuk pergi ke kantin bersama. Dhea namanya, teman dekat yang selalu aku curhati tentang dirimu kapan pun di manapun itu.

“Darrr, Risa!” suara keras dari belakang itu mengagetkan ku, ternyata Dhea. Tumben pikirku ia baru keluar sekarang, biasanya 5 menit waktu istirahat tersisa ia baru datang, jadi sangat sering kami telat masuk dan dihukum depan kelas dan waktu itu yang aku manfaatkan untuk melihat sosok ‘dia’ di kelasnya. Dhea memang tipikal sangat lambat dalam menulis alias menyalin tugas yang sudah kukerjakan terlebih dahulu. Sehingga, aku selalu menungggu Dhea sembari melihat dirinya di sudut taman itu.

“Ah, Dhea. Ngagetin aku aja” kataku sambil memasang wajah orang yang sedang kesal.

“hehe maaf ya, lagian kamu ngapain bengong?” Sambil melihat arah mataku menuju kemana.

“Oh, kakak itu. Pantes deh nyaman banget duduk sendirian di sini” lanjutnya.

“Hehehe yaiyadong” jawabku sambil tersenyum masih dengan pandangan menuju dirinya.

“Eh Sa, kamu tau kan kalo sebentar lagi sekolah bakal adain perpisahan untuk anak kelas 12?”

“Iya tau, kenapa?” Tanyaku.

“Gapapa sih, ya maksudku kamu ada mau apa gitu, kayak ngasih hadiah perpisahan ke dia”

Benar juga kata Dhea, aku harus ngasih hadiah apa ya? Tapi kalo aku ngasih sesuatu ke dia nanti jadi ketahuan deh.

“Tapi aku bingung mau kasih apa Dey, aku juga takut kalo ketauan diem-diem suka dia” lirihku.

“Ya enggak dong Sa, kan nama pengirimnya kasih inisial atau tulis aja ‘Pengagum rahasia’ kek. Kalo hadiah apa aja deh kasih, atau kamu beliin jam tangan ntar kasih foto dia yang pernah diem diem kamu ambil” saran Dhea memang cocok, aku lihat ia tidak memakai jam dan satu faktanya lagi aku sering diam diam memfotonya.

“Oke deh Dey, bagus juga saranmu. Nanti temani aku ya buat beli hadiahnya”

“Ahsiap”

Lalu kami pun bergegas menuju kantin karena perut sudah berbunyi sedari tadi.

***

Tidak terasa kurang lebih 2 minggu lagi acara nya akan dilaksanakan. Aku juga sudah menyiapkan tabungan khusus untuk membelikannya hadiah. Mungkin saja tabungan ini cukup untuk membeli jam tangan seperti ide yang dikatakan Dhea. Saat ini kelas 12 sedang menempuh ujian akhir dan aku yang masih kelas 10 diberitahukan untuk belajar di rumah aka libur sekolah. Untung saja ada waktu panjang untukku mempersiapkannya.

Pagi ini, Aku dan Dhea sudah janjian untuk bertemu di mall yang ada di kota kami. Pukul 10.00 kami sepakat untuk bertemu di sini, sedangkan pukul 10.45 waktu sekarang, aku sudah telat. Pasti Dhea sudah sampai di sana. Untungnya letak mall tidak jauh dari rumahku.

15 panggilan tak terjawab

Dhea

WhatsApp Notification

Dhea

Dimna?

Risa dmna, aku udah disini  10.15

Risaaa:’) tega sih aku sendirian  10.40

Aku hanya tertawa melihat notifikasi layar smartphone ku. Karena biasanya dalam hal apapun itu Dhea yang selalu telat kini gantian ia yang menungguku.

“Haha, gantian ya Dey” dalam hatiku.

Waktunya aku berangkat kesana sekarang, ternyata Dhea masih menunggu depan pintu masuk. Wajahnya sudah terlihat kesal sekali, saat aku sampai di depan nya ia tak bicara sedikitpun.

“Udah pasti ngambek wkwkw” pikirku dalam hati.

“Jadi gak nih katanya mau bantuin aku nyari hadiah itu” kataku kepadanya.

“Yaudah cepet” Dhea langsung mendahului jalan kedepan.

Sudah lama kami berkeliling akhirnya hadiah yang aku inginkan sudah ada di tanganku. Foto yang ku ambil diam diam sudah kucetak juga. Kami berpisah di pertigaan jalan menuju rumah masing-masing.

Dua minggu berlalu, tepat 2 Mei acara dilaksanakan itu artinya besok aku harus memberikan hadiah itu kepada orang yang ku sukai diam diam.

“Duh, aku gugup banget mana gak kenal. Apa aku harus titipin keorang lain buat ngasih ke kak Riki?” Tanyaku dalam hati.

Lagi pula, kakak itu mana tau keberadaan ku saat ini. Nama saja tidak kenal, apalagi mau basa basi mengobrol untuk memberikan hadiah itu. Karena hari semakin larut malam, aku bergegas tidur agar besok aku bisa datang kesekolah dan tidak telat dengan acaranya.

07.00 Alarm berbunyi,

Segala yang sudah kupersiapkan sejak jauh hari sudah ada didalam paperbag coklat itu. Tentunya kami yang masih dibawahnya tetap memakai baju sekolah. Kuikat rambutku seperti biasanya, memakai sneaker bebas tidak seperti sekolah. Lalu aku pun berangkat menuju sekolah tempatku menimba ilmu.

Kebetulan aku sampai dengan waktu yang bersamaan dengannya. Aku gugup, aku tidak sanggup untuk melihat kearahnya. Ia memakai jas hitam dengan kemeja putih yang sudah lengkap dengan dasi. Potongan rambut yang sangat sesuai dan tidak seperti biasanya. Mungkin karena ini hari yang spesial untuknya dan siswa/i lainnya. Kubiarkan ia berjalan mendahuluiku, paperbag ini masih tergenggam erat juga ditangani.

“Dhea dimana ya, aku bingung ngasihnya gimana. Apa Dhea aja yang ngasih ini? Biar dia bilang titipan dari temannya, apa begitu aja ya” tanyaku sendiri.

Orang yang kutunggu sedari tadi tiba juga di depanku.

“Kenapa? Nyariin aku ya? Hahaha” dengan tawanya yang khas membuat aku sakit kuping.

“Dey bisa diem sebentar gak? Aku ini lagi bingung tau”

“Wkwk, iya… bingung kenapa sih?” Tanyanya.

“Ntar kamu aja deh Dey yang ngasih bilang aja ada titipan dari temen kamu. Jangan bilang namaku, oke?”

“Siap banget, apasih yang enggak aku bisa ini” Dhea menyeringai senang sekali bisa membantuku.

Kami pun pergi kedalam untuk melihat acaranya, setelah selesai kami berencana untuk langsung memberikan hadiah itu kepada Kak Riki. Setiap bertemunya pasti saja ia selalu berada disudut taman sekolah sambil menatap layar smart-phone nya. Ku suruh Dhea untuk langsung saja memberikannya, lantas kenapa harus aku yang gugup? Bukankah Dhea yang akan menghampirinya disana.

Dengan langkah santai Dhea menuju tempat dimana kak Riki berada, aku terdiam menatap dua orang yang saling melontarkan kalimat. Entah apa yang Dhea katakan selain yang sudah kubilang. Lama sekali, sesekali kutatap wajah tampan itu. Saat aku tidak sadar, tiba tiba ekor mata kami bertemu. Ia menatap ku, langsung saja aku pergi dari tempat ku ini. Malu, malu sekali rasanya aku ketahuan menatapnya. Tidak lama itu Dhea datang menghampiriku.

“Sa, udah beres nih udah kukasih ke Kak Riki hadiah dari kamu” Kata Dhea kepadaku.

“Oke deh makasih banyak ya Dey”

“sama-sama cabat aku” sambil merangkul pundak ku.

“Eh btw, tadi dia ngeliat kearah kamu tau pas aku bilang ‘titipan dari temanku’ tiba-tiba dia langsung nengok gitu. Aku juga gak tau kok bisa gitu. Tapi kayaknya dia udah tau deh kalo itu kamu. Dan raut mukanya tadi datar banget dan langsung pergi gitu aja” papar Dhea mengenai hal tadi.

Aku hanya menghela nafas, semoga Kak Riki suka hadiahnya. Terimakasih karena udah memenuhi isi kepala dan hatiku akhir-akhir ini.

“Aku harap kamu sukses dengan apa yang kamu cita-citakan. Aku lega banget kalo kamu tau aku sekarang gak lama. Aku hanya pengagum rahasiamu, di sudut taman itu yang sering aku temui kamu sedang di sana. Semoga kamu baik-baik saja kak, sampai bertemu di lain kesempatan”

Love,

Risa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *