Karya : Anisa Cikal Amarta

Aku, terduduk di salah satu halte biru yang seperempat kanopinya sudah mengeropos, mungkin karena terkikis oleh panasnya matahari dan dinginnya malam hari. Menatap rinai hujan yang tak berhenti mengalir, membasahi jalanan. Deru mesin kendaraan kian bising beradu dengan suara adzan Isya’ yang telah berkumandang.

Kupejamkan mataku sejenak meresapi segala hal yang kurasakan sekarang. Aku lelah, lelah jiwa dan lelah raga. Lapar dan haus sudah menemaniku sejak tadi. Tapi apa daya aku tak membawa apapun untuk datang ke tempat ini. Bahkan aku tak pernah mengira bahwa aku akan berhenti di sini.

Bangku yang kududuki tiba-tiba berdecit. Seorang gadis kecil berpakaian lusuh membawa sebotol air putih dan kantung berukuran sedang. Diletakkan seluruh barangnya di bangku tersebut. Ia nampak seperti orang yang tak punya tempat berpulang. Kuperhatikan wajahnya dengan seksama, rambutnya ikal sebahu dibiarkan begitu saja dan wajahnya dipenuhi debu. Bau kecut dari tubuhnya menguar memenuhi indra penciumanku.

Gadis itu, mungkin umurnya tidak beda jauh dengan adik perempuanku di rumah yang kerjanya hanya menangis minta dibelikan permen gula-gula. Bahkan ia baru bisa membaca bagian ‘Ini Budi, ini Ibu Budi’. Adikku, yang tiap malam selalu merusuhiku saat belajar. Ikut-ikutan mencoret-coret kertas yang baginya itu bisa disebut dengan menggambar. Ah, tiba-tiba aku merindukannya. Merindukan jemarinya yang masih halus dan lembut karena belum pernah mengerjakan pekerjaan rumah.

Kuhirup aroma kota ini dalam-dalam, karena suatu mungkin akan menyisakan kenangan. Lampu-lampu jalannya, gedung-gedung tingginya semua tampak kontras, walaupun langit berwarna gelap dan cuaca tidak mendukung. Kupejamkan mata kembali, mencoba mencermati kejadian beberapa waktu lalu yang mungkin akan mengubah masa depanku.

“Arggh…!” Aku berteriak frustasi. Bagaimanapun aku memikirkannya, itu hanya akan menyesakkan dada. Meyisakan riak sungai di kedua sudut mataku lagi.

Kutatap kembali gadis kecil yang duduk disampingku. Kini, ia sibuk menata kain-kain lusuh berwarna pudar lalu ia gelar di kursi halte. Bahkan gadis itu lebih pintar dari aku untuk sekedar pergi, membawa kebutuhan yang sangat primer untuk situasi seperti sekarang. Ia kemudian berbaring sambil memandang dedaunan yang masih ditetesi hujan. Malam makin menua dan hujan makin ramai mengunjungi kota ini. Kulipat kakiku sampai kursi halte, memeluk tubuhku yang menggigil kedinginan.

“Kakak mau selimut?” suara kecil itu mengiterupsi lamunanku. Aku menoleh, selembar kain tipis tak lebih satu meter, bahkan bisa disebut selimut. Hatiku trenyuh, bagaimana bisa seorang gadis kecil bisa melewati hidup seperti ini. Aku jadi merindukan selimut biru berbulu lembut hadiah dari nenek, tepat setahun lalu.

“Buat kamu saja. Aku tidak perlu,” aku menjawab lirih. Walaupun sangat dingin aku tak sampai hati membiarkannya berbagi kehangatan kepadaku, dia lebih butuh. Bahkan dekapan seorang ibu. Gadis kecil itu lalu diam dan kembali ke posisi semula.

“Dik . . .” Aku menyentuh ujung kakinya yang dingin.

“Iya,” ujar nya sambil terbangun.

“Kamu punya minum?” Tiba-tiba tenggorokanku sangat haus. “Kakak butuh minum, kakak haus sekali.”

“Ini.” Tangan kecil itu menyodorkan sebuah botol plastik.

Aku kaget, ternyata air keruh itu benar-benar minumannya. “Ini… air minum? Kamu minum ini?” ucapku tak percaya.

“Iya Kak. Kalau kakak kurang nanti bisa saya ambilkan lagi.” ucap gadis itu dengan wajah polosnya.

 “Memangnya kamu mengambil air di mana?”

“Di Sungai,” ucapnya singkat. Hatiku mencelos mendengar jawaban polosnya. Meminum air sungai perkotaan yang bisa dibayangkan sudah tercemar. Mataku berkaca-kaca melihat raut wajahnya yang tak menampakkan raut kesedihan. Gadis ini, luar biasa. Di mana keluarganya? Sekecil ini, hidup sendiri? Bahkan adikku saja tak mau minum air putih saat menjelang tidur, ia harus minum susu. Walau hanya sekedar susu kaleng cokelat yang selalu dibeli ibu di warung.

Aku menimang-nimang botol pemberiannya. Sangsi, untuk meminumnya. “Kamu sudah makan, Dik?” aku bertanya padanya.

Ia menggeleng. Tanpa ia berbicara aku tahu dari wajahnya yang kotor dan kuyu itu sepertinya ia sudah seharian tidak makan nasi. “Kamu tidak makan? Memangnya tidak lapar?” pertanyaan bodoh nan klise aku lontarkan juga akhirnya.

“Kata Ibu kalau lapar, minum air yang banyak dan hitung bintang,” ucap gadis itu tanpa beban. Aku terhenyak dengan jawaban yang tak sepadan dengan pertanyaaku yang klise.

“Kenapa begitu?” Aku sudah terlanjur sangat ingin tahu.

“Kata Ibu air rasanya manis.” Aku terkejut mendengar jawabannya. Apa mungkin Ibunya percaya pada iklan air mineral?

“Hmm, apakah air ini rasanya manis?” aku mengangkat botol itu ke hadapannya.

Dia mengangguk. “Iya, coba deh Kakak minum, rasanya manis,” ucapnya sambil tersenyum. “Kakak tahu tidak kenapa kita harus banyak minum?” lanjutnya.

Gerakan membuka tutup botol yang kulakukan berhenti. Mendengar pertanyaan gadis kecil tersebut. Aku menggeleng tak paham.

“Karena, kata Ibu nasi rasanya manis. Dan air ini rasanya juga manis. Jadi kita hanya perlu minum banyak tanpa harus makan nasi.”

Jawaban yang kudengar, membuat aku kembali terkejut lagi dan lagi.

Di antara lebatnya hujan dan desau angin gadis kecil itu kembali bersuara, “Kakak lapar ya? Ingin makan nasi?”

Aku diam saja merespon pertanyaannya. Aku ingin menunggu perkataan apalagi yang akan meluncur dari mulut mungilnya itu. Jawabannya selalu diluar dugaan dan nalarku.

“Kalau Kakak ingin makan nasi, tunggu besok pagi ya! Di sana, biasanya ada kotak-kotak putih bertumpuk banyak sekali. Kita bisa ambil di sana,” ucapnya seraya menunjuk gedung mewah bertingkat tiga.

“Kita masuk ke dalam sana? Apa kita di eri nasi gratis?” tanyaku antusias.

“Bukan . . .” Ia menggelengkan kepalanya cepat. “Kita mengambil di kotak abu-abu itu.” Dia menunjuk kembali, dan itu mengarah kepada kotak sampah. Ya kotak sampah di pinggir gedung.

Jawabannya kali ini benar-benar menohok sisi kemanusiaanku. Minum air sungai perkotaan yang tak lagi jernih dan bersih, memakan makanan yang berasal dari kotak sampah. Bahkan ia harus minum air banyak dan menghitung bintang untuk menunda lapar.

Dia seorang gadis kecil. Namun, harus menjalani hidup yang tak biasa dilakukan oleh anak seusianya. Aku yang mendengarnya saja tak sanggup jika harus menjalaninya. Kemanakah perginya konglomerat dan para pejabat? Apakah gadis kecil ini tak terlihat di antara silaunya lampu gemerlap? Lalu di manakah Ibu yang selalu ia sebut-sebut itu, yang memberikannya paradigma aneh tak masuk logika?

 Ibu? Tiba-tiba aku ingat ibuku dirumah.

***

“Bapak aku ingin sepeda motor,” ucapku pada Bapak yang sedang mengasah sabit untuk ke sawah, pagi itu.

“Sepeda motor?” kata Bapak mengulang permintaanku.

“Iya Pak, Ayu ingin sepeda motor. Supaya jika Ayu pergi tak perlu repot pakai angkutan umum atau lelah-lelah pakai sepeda.”

“Ayu ini ada-ada saja. Uang bapak belum cukup. Kamu juga sebentar lagi masuk kuliah butuh biaya banyak.”

“Ih Bapak! Ayu baru minta kali ini. Masa tidak boleh si Pak! Ini demi Ayu, Ayu sangat butuh sepeda motor Pak, teman-teman Ayu sudah punya semua. Tinggal Ayu yang belum,” ucapku berapi-api. Ibu yang sedang memotong kacang panjang sampai berhenti dan menatapku tak suka.

“Bicara yang sopan Ayu kepada orang tua, jangan keras-keras!” kata Ibu memperingatiku.

“Ayu tidak bicara keras Ibu, Ayu hanya bilang ingin sepeda motor.”

“Tapi, tidak harus sekarang kan Ayu, bisa besok-besok. Kebutuhan kita masih banyak dan mendesak,” kata bapak lagi.

Aku, benar-benar lelah. Lelah menunggu, lelah bersabar. Lelah atas kondisi keluarga kami yang pas-pasan. Aku hanya ingin sepeda motor, keinginan yang tak terlalu berat untuk anak-anak seusiaku. Bahkan teman-temanku sudah punya semua.

Sambil terisak aku berkata, “Bapak, kenapa Ayu harus dilahirkan di keluarga tak mampu sih? Kenapa Ayu harus punya Bapak petani dan seorang Ibu buruh cuci? Kenapa Ayu tak boleh memilih lahir di keluarga konglomerat, orang tua pejabat. Kenapa Ayu tidak dilahirkan di sana? Kenapa Ayu harus hidup miskin?” jeritku tak tertahan. Aku duduk, melipat kakiku dan menangis tersedu-sedu. “Ayu ingin jadi anak orang kaya, Bu. Ayu ingin punya sepeda motor, Pak. Ayu ingin hidup enak. Tidak perlu susah-payah”

“Ayu! Itu jalan Tuhan. Perhatikan ucapanmu, Nak!” ucap bapak tajam. Aku masih saja menangis meratapi nasibku yang tak mujur ini. Bahkan tangisanku makin keras dan menjadi-jadi.

“Silahkan Ayu, silahkan jika Ayu ingin jadi anaknya pejabat. Silahkan, pergi dan cari orangtua konglomerat yang mampu belikan Ayu sepeda motor. Silahkan, Ibu izinkan!”

Perkataan ibu membuatku terdiam dan mengheningkan tangisanku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku berlari keluar rumah. Tanpa membawa apapun, tanpa alas kaki. Aku kecewa, kecewa dengan hidupku. Kecewa dengan kedua orangtuaku. Kecewa dengan semuanya.

Aku berlari, terus berlari tanpa memperdulikan rasa sesak di dada dan rasa sakit di telapak kaki yang bergesekan dengan aspal. Hingga tubuhku mengistirahatkanku disini. Di Halte Biru.

***

Kuusap ujung mataku yang sedari tadi sudah memproduksi kristal-kristal air mata. Menyesali segala keputusan dan perbuatanku. Kini pikiranku tak lagi sama. Aku tak perlu lagi sepeda motor, jika kenyataanya keadaanku jauh lebih baik daripada gadis kecil di sampingku yang tengah tertidur, dengan berselimut kain kumal dan dinginnya malam. Kehidupanku ternyata jauh lebih baik, jika seandainya aku mau lebih bersyukur terhadap pemberian Tuhan.

Aku masih diberikan kedua orangtua. Yang mampu memberikanku air putih layak untuk diminum dan nasi tanpa harus mengais di kotak sampah. Aku masih memiliki selimut lembut. Aku masih memiliki banyak, yang bahkan tak dimiliki gadis kecil itu.

Aku harus pulang, aku tidak ingin jadi anak orang kaya, aku sudah cukup bangga memiliki mereka. Walaupun bukan pejabat tapi mereka tetap mampu membesarkanku hingga saat ini. Dan apa balasanku sekarang?

Gadis kecil, aku harus pulang. Terima kasih atas ceritamu yang menyentuh. Aku bersyukur bertemu denganmu, semoga besok ada orang berbaik hati memberimu nasi dan air minum. Sehingga kau tak akan bersusah payah menanggung lapar dan menghitung bintang.

Kuusap kepala dan pipinya yang kasar karena debu. Keinginanku untuk kembali ke rumah makin kuat dan rasa bersalahku pada bapak dan ibu makin besar. Aku harus pergi dan kembali ke rumah. Menerobos dinginnya malam dan hujan, meninggalkan gadis kecil itu dan halte biru.

Aku terus berlari di antara rintik hujan yang masih mengguyur tubuh kota ini. Kutatap langit gelap. Dan aku baru sadar, tak ada satu bintang pun di atas sana. Lantas, apakah gadis itu bisa menahan lapar di antara dinginnya malam?

                                                                                    Selesai—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *