Perkembangan industri di Indonesia sangatlah pesat sehingga limbah yang dihasilkan pun semakin meningkat. Kandungan zat-zat berbahaya yang terdapat pada limbah industri sebagian besar terdiri dari logam berat dan senyawa organik. Salah satu contoh senyawa organik yang terdapat pada buangan limbah industri, yaitu fenol, yang dikategorikan sebagai B3 karena memiliki sifat toksik bagi kesehatan manusia, biota, maupun lingkungan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 51/MENLH/10/1995 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/VII/2002, senyawa fenol dinyatakan aman keberadannya dalam air untuk kehidupan ekosistem akuatik pada konsentrasi 0,5-1,0 mg/L sedangkan ambang batas senyawa (turunan) fenol dalam baku mutu air minum adalah maksimal 0,01 mg/L.
Melihat fenomena ini, kami membuat sebuah program penelitian berjudul “Pemanfaatan Senyawa Baru Hasil Tautsilang Eugenol dengan Etilen Glikol Dimetakrilat 10% untuk Recovery Fenol” yang diketuai oleh Rizka Agustia dengan anggotanya Dianika Fauziah dan Lola Erdianes di bawah bimbingan Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc.
Fenol pada daerah perairan dapat diminimalisir atau recovery dengan beberapa metode, salah satunya yaitu menggunakan teknologi membran cair. Jenis metode transpor fenol dengan membran cair yang digunakan yaitu Supported Liquid Membrane (SLM) dimana cairan organik (senyawa pembawa) yang dipakai tidak bercampur antara fasa sumber dengan fasa penerima.
Senyawa pembawa dalam transpor fenol berperan sebagai fasilitator, yaitu penentu dalam kinerja pemisahan dari fasa sumber menuju fasa penerima. Selektivitas senyawa pembawa terhadap fenol ditentukan oleh sisi aktif yang dimiliki oleh senyawa pembawa tersebut karena akan berinteraksi dan memfasilitasi fenol menuju fasa penerima.
Salah satu alternatif untuk meningkatkan sisi aktif pada membran adalah dengan cara kopolimerisasi, maka dilakukan kopolimerisasi antara eugenol dengan agen tautsilang Etilen Glikol Dimetakrilat (EGDMA). Fenol adalah senyawa yang memiliki gugus –OH dan cincin benzena, maka senyawa pembawa yang digunakan pun harus memiliki guugus aktif yang sama, sehingga terjadi interaksi π- π antara keduanya membentuk ikatan hidrogen.
“Diharapkan dengan metode ini suatu proses transpor fenol dapat berjalan dengan efektif sehingga dapat mengurangi masalah yang ditimbulkan oleh limbah beracun yang mengandung fenol dan turunannya,” jelas Rizka.