Tahukah kamu, seiring berkembangnya teknologi industri, kita selalu bertemu dengan kimia hampir di setiap harinya? Salah satunya pada industri kosmetik. Hampir semua produk kecantikan yang kita temui berhubungan dengan kimia, seperti pada lip balm yang sering kita gunakan sehari-hari dan henna dengan warna indahnya ketika diaplikasikan ke kulit. Lalu, seperti apa sih kandungan kimianya? Yuk, simak penjelasan berikut!

Lip Balm

Lip Balm seringkali digunakan untuk perwatan bibir yang kering dan pecah-pecah dengan sifatnya yang melembabkan. Apa aja sih penyusunnya? Lip Balm terdiri dari 2 material utama, yaitu material oklusif dan bahan tambahan.

  1. Material Oklusif

Bahan utama dari lip balm adalah petroleum jelly, suatu hidrokarbon dengan jumlah atom karbon lebih dari 25. Bahan oklusif ini membantu mencegah hilangnya kelembaban dengan membentuk pelindung di atas lapisan kulit, serta memberi kesan berminyak pada bibir setelah mengaplikasikannya. Selain petroleum jelly, lanolin dan dimethycone pun dapat digunakan sebagai material oklusif.

  • Bahan Tambahan

Bahan tambahan pada lip balm terdiri dari bahan pemberi aroma dan bahan pewarna. Bahan pewarna yang digunakan adalah lycopene, yang membuat warna merah muncul saat lip balm diaplikasikan. Untuk pemberi aroma, digunakan linalol yang dapat menyamarkan aroma dari petroleum jelly.

Henna

Henna adalah pewarna yang digunakan untuk menghiasi tangan dan kaki wanita  yang dibuat dari bahan tumbuhan yang bernama “henna” (Lawsonia genus). Zat pewarna pada tanaman ini berada pada bagian daun yang digabung dengan protein untuk menghasilkan efek pewarnaan. Bahan penyusun henna yang memberikan efek warna terdiri dari lausone dan PPD.

  1. Lausone

Marupakan pewarna merah-oranye dari daun tanaman henna. Lausone bereaksi secara kimiawi dengan keratin di kulit, meninggalkan noda yang bertahan selama 2-6 minggu. Molekul lausone mewarnai rambut dan kulit dengan mengangkat molekul proteinnya secara aman. Warnanya menjadi gelap seraya menyerap lebih dalam pada rambut dan kulit karena terikat protein tambahan.

  • PPD

Henna hitam adalah henna merah yang mengandung PPD. PPD (paraphenylen diamine) dapat menimbulkan reaksi alergi pada kulit.  

Selain dalam bidang kecantikan, kita juga sering menjumpai kimia dalam bahan makanan dan minuman. Seperti boba yang biasa dicampur dalam berbagai minuman. Atau MSG yang dapat menyedapkan makanan. Tapi tahukah kamu apa saja kandungan kimia boba dan MSG? Manfaat dan pengaruhnya untuk tubuh? Yuk, simak penjelasan berikut.

Boba

Terbuat dari apakah boba itu? Boba dibuat dengan cara mencampurkan tepung tapioka, pewarna makanan, dan air hangat. Setelah menjadi adonan dan dibentuk menjadi bola-bola kecil, kemudian direbus. Tepung tapioka seberat 50 gram mengandung energi sebangak 181 kkal. Namun, ketika sudah menjadi boba, jumlahnya menjadi 120 kkal.

Nutrisi utama yang bisa didapatkan dari mengonsumsi boba adalah karbohidrat dan gula. Karbohidrat pada boba adalah karbohidrat yang biasa dinamakan pati. Pada dasarnya, kandungan nutrisi pada boba, seperti protein, vitamin, dan mineral tidak cukup berpengaruh pada kesehatan. Kita juga mungkin memperoleh zat besi, magnesium, mangan, dan fosfor yang berasal tepung tapioka. Namun, jumlahnya terlalu sedikit dan bahkan belum bisa memenuhi 1% kecukupan harian.

MSG

MSG (Monosodium Glutamat) atau biasa disebut micin adalah bentuk garam dari asam amino non esensial, yakni asam glutamat. Pada nama awalnya, monosodium atau mononatrium menunjukkan bahwa ada 1 atom Na yang membentuk garam, sebagaimana kita kenal garam NaCl. MSG sering dipakai sebagai penguat rasa dan bertanggunga jawab atas rasa gurih atau “umami”. MSG secara alami terdapat di alam, serta di berbagai makanan seperti tomat, kentang, dan keju. Selain itu, tidak jarang juga kita temui MSG dalam produk makanan seperti mie instan dan sarden.

Tahukan kamu? Diklaim bahwa MSG dapat menyebabkan “Chinese Restauran Syndrome” (CRS), dengan gejala sakit kepala, berkeringat, mual, nyeri dada, maupun jantung berdebar setelah mengonsumsi micin, (Singh, 2005). Namun, menonsumsi MSG dalam dosis rendah selama beberapa waktu menyebabkan “kekebalan” neuron terhadap MSG, sehingga efek CRS tidak akan dirasakan. MSG tidak menyerang sel dan neuron yang sedang berkemban. Hal ini menunjukkan fakta bahwa CRS dan MSG kurang mempengaruhi anak-anak. Mengonsumsi vitamin C, ternyata dapat mngurangi efek kerusakan yang ditumbulkan MSG terhadap sel neuron. Selain itu, ternyata setiap harinya kita menelan 20-40 kali lebih banyak glutamat alami daripada glutamat MSG.

Lalu bagaimana proses pembuatan MSG? Pada pembuatan asam glutamat, awalnya asam sulfat akan diolah menjadi tetes tebu, kemudian disterilisasi, difermentasi dengan H2SO4 dan NH3, dilanjutkan dengan pembentukan kristal dengan bantuan hidrogen, kemudian dilakukan sparasi cairan menjadi glutamat. Pada tahap akhir, asam glutamat netralisasi dengan NaOH menjadi sirup MSG, kemudian didekolorisasi dengan karbon aktif, dilanjutkan dengan filtrasi, pengeringan, dan pengayakan hingga diperoleh MSG.

Source : kimia.qna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *