Oleh : Annida Rezani
Sang Surya mulai terbangun yang menandakan dimulainya semua aktivitas, begitupun suasana yang masih asri dengan dikelilingi oleh banyaknya pepohonan menyelimuti sebuah desa terpencil yang jauh dari perkotaan. Hampir mayoritas penduduknya tidak tamat SD lantaran kondisi ruangan sekolah yang kian memburuk ditambah lagi banyak tenaga pendidik yang memundurkan diri. Sehingga banyak dari penduduknya yang buta huruf dan menyulitkan mereka untuk mengais rezeki. Tetapi harapan baru mulai muncul ketika seorang tenaga pendidik bernama Pak Andri yang ditugaskan dari Dinas Pendidikan untuk mengajar di sebuah desa terpencil tersebut, beliau awalnya hanya ditugaskan selama 2 tahun saja, namun melihat kondisi masyarakat di desa tersebut yang mengalami kurangnya ilmu pendidikan membuatnya tak tega untuk meninggalkan mereka, sehingga beliau putuskan untuk menetap dengan terus mengajar di sekolah yang berada di desa tersebut Setiap hari beliau mengayuh sepedanya untuk sampai ke sekolah tersebut, sekolah yang hanya memiliki 1 ruang kelas dan siswa-siswinya yang tak memiliki seragam tak membuatnya patah semangat untuk membagikan ilmunya.
“Baik anak-anak hari ini bapak akan menguji kalian dengan mengerjakan soal matematika yang sudah bapak buat, tenang hanya 5 soal saja.” Terang Pak Andri kepada para muridnya.
“Maaf bapak, apakah kami boleh ikutan?” Tanya Abas ( salah satu muridnya yang sudah kelas 6).
“Boleh nak, tapi apakah kalian berlima gak bosan? Ini kan Cuma soal matematika untuk kelas 5 SD, kalian juga udah pernah dapetkan?” Tawar Pak Andri kepada 3 muridnya tersebut yang sudah kelas 6 SD.
“Gak papa pak, walaupun kami sudah UN kemarin bukan berarti kami malas-malasan belajar kan pak?” Jawab Listy.
“Ya sudah kalau kalian ingin ikut mengerjakan soal-soal ini dengan adik-adik kalian bapak juga gak ngelarang kok.” Kata Pak Andri.
“Siap bapak.” Jawab serentak Ehsan, Abas dan Listy.
.Rek-rek ngiiiiiiiit (suara sepeda pak RT)…….
“Assalamualaikum, alhamdulilah bapak belum pulang. Ini saya dari kantor Kelurahan Desa dititipin surat katanya darin kota Pak suratnya, ini suratnya ada duapak.” Kata Pak RT sambil menyerahkan kedua surat tersebut.
“Owalah iya Pak terima kasih banyak ya.”” Ucap Pak Andri.
“Sama-sama Pak, monggo Pak saya permisi dulu, anak-anak bapak duluan ya” Pak RT berpamitan dan pergi menuju rumahnya.
Ketika beliau membuka surat yang pertama ternyata berisi surat keterangan lulus UN dan surat kedua berupa diterimanya besiswa mereka untuk bersekolah di salah satu SMP bergengsi di kota karena nilai mereka tercatat sebagi nilai tertinggi UN, seketika beliau meneteskan air mata lantaran rasa bangga bercampu haru yangg menyelimuti perasaanya selama mengajar di sekolah tersebut selama kurang lebih tujuh tahun lamanya dan kelas enam tersebut merupakan kelas enam pertama yang lulus dari SD tersebut, seketika beliau langsung memberitahu perihal isi surat tersebut kepada mereka bertiga, tentunya tak henti-hentinya mereka mengucapkan syukur kepada Allah SWT disertai dengan berlinang air mata kebahagiaan.
“Anak-anakku kalian sukses di tahap pertama, lanjutkan hingga tahap selanjutnya hingga kalian menjadi orang sukses.” Ujar Pak Andri sambil terharu.
“Bapak dengan sabar membujuk kami waktu itu untuk bersekolah lagi dan mengajari kami sampai kami bisa.”Jawab Listy sambil menangis.
“Tanpa bapak kami tak akan sebisa ini.” Ucap Ehsan dengan menahan air matanya.
“Ini semua atas kuasa Allah,tanpa bantuan Allah kalian tak akan berhasil seperti ini.” Ujar Pak Andri.
Mereka bertiga pun mencium kedua tangan Pak Andri dan tak henti-hentinya mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau, sebab berkat beliaulah semangat untuk belajar dan berani untuk bermimpi menjadi orang sukses datang. Mereka pun segera bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing untuk menyampaikan kabar baik tersebut. Sambil berdiri di tengah pintu melihat mereka pulang, Pak Andri hanya bisa berdoa dan berharap supaya apa yang mereka cita-citakan dapat tercapai dengan mengangkat derajat kehidupan mereka beserta desa tersebut.