Karya : Mutiara Alfianti
“Aku selalu berusaha, berjuang, bekerja keras, namun kenapa aku tidak menjadi yang terbaik?”
Maya duduk sendirian ditaman, memikirkan banyak hal tanpa satupun jawaban. Merenung dalam keheningan. Lalu dia berdiri dan berjalan pulang. Langit malam indah namun tidak untuknya yang baru saja mendapat kekalahan.
Maya Athanasia, seorang pemain biola serta pemegang juara umum. “Maniak prestasi”, orang-orang menyebutnya begitu. Namun, dia tidak memilki teman, karena waktunya dihabiskan untuk dirinya sendiri, entah untuk belajar ataupun berlatih biola. Orang-orang menganggap Maya memiliki pribadi “tidak bisa didekati” sehingga teman-temannya menganggapnya sombong.
Tahun pertamanya di SMA berjalan baik, dia mendapat tropi pada kompetisi biola dan juga mendapat juara umum di sekolahnya, membuat namanya melambung tinggi. Semakin tinggi prestasi, semakin banyak pula rintangan yang menghadang. Masalah sepele berdatangan, mulai dari gosip yang tak mengenakan hingga diteror oleh beberapa senior.
“Kenapa malah aku yang di marahi, bukan pacarnya? bahkan aku tidak kenal dengan pacarnya.”
NAMUN…., TIDAK ADA HAL BAIK YANG TIDAK DIIKUTI HAL BURUK.
Tahun ke-dua nya di SMA, menjadi tahun terburuk yang akan dialaminya. Maya yang selalu memaksakan diri, menyebabkan tubuhnya melemah dan sakit. Orang-orang dan lingkungan toxic yang makin menjadi. Kompetisi dan ujian akhir yang ada didepan mata.
“Apapun
yang terjadi dengan badanku, aku harus menang, harus menang!”
“Hal gila apapun yang akan terjadi, aku harus menang, harus menang, harus
bisa!!”
Kompetisi dan ujian akhir tetap dijalani dengan terus memaksakan diri. Jarak kompetisi dan ujian akhir hanya 2 bulan, entah hal gila apa yang dia lakukan untuk mempertahankan prestasinya.
Di hari kompetisi, Maya sangat bersemangat , namun dia melakukan kesalahan di beberapa nada.
‘tenang, tetap tenang, lakukan seperti yang biasanya, tenang, tenang,tetap tenang, aku mohon’
Setelah menyelesaikan permainannya, lalu ia pulang. Pengumuman untuk pemenangnya 1 bulan dari hari ini. Babak yang dilalui Maya tadi, adalah babak semifinal, karena dia termasuk pemain muda yang paling cepat melampaui teman seumurannya.
“Sekarang fokus ke ujian akhir,” ucapnya sembari memasuki kamarnya.
Maya mengecek handphone-nya, hanya ada pesan dari grup kelas dan guru biolanya. Pesan dari guru biolanya yang pertama dia buka sambil merebahkan diri.
“hmm,
kalo kak Ayu jadi kakak kandungku seru kayaknya, abisnya rumah ini sepi banget,
enaknya yang punya kakak.”
“haaah, ayo belajar!!, jangan ngeluh mulu, ga maju-maju nantiiii..”
Maya membuka buku pelajarannya, mengulang kembali pelajaran yang sudah dijelaskan oleh gurunya, dia juga membuka lembar ujian tengah semester kemarin sebagai bahan tambahan belajar.
Sudah
satu bulan dilalui dengan belajar semaksimalnya, lalu datanglah pengumuman
kompetisi.
Telpon dari kak Ayu
masuk
“Halo
May, kamu lulus ke grandfinal, kamu masuk 3 besar nih, kamu di nomor urut 1,
selamat ya.”
“ HAH? Yeayyy masuk lagi. Makasih ya kak.”
Babak grandfinal diadakan satu minggu setelah ujian akhir. Maya harus berusaha dengan keras, harus dengan keras. Hari ujian pun datang, Maya melalui dengan sekuat hatinya. Sayangnya di hari terakhir tubuhnya sudah mencapai batas. Tubuhnya tidak begitu baik. Namun , bukan Maya namanya jika tidak memaksakan diri. Di hari kompetisinya pun dilalui dengan keadaan yang tidak prima.
SELALU AKAN ADA HAL BURUK MENEMANI HAL BAIK. SELALU.
Hari pengumuman kompetisi bersamaan dengan hari pengumuman juara sekolah. Pengumuman juara sekolah dimulai.
“Baik, juara umum terakhir yang ke tiga, diraih oleh Maya Athanasia, selamat kepada siswi yang di sebutkan!!”
“EH? 3? 3? 3? bukan 1? eh? bohong, bohong, bohong,” gumamnya.
Pelupuk
matanya sudah penuh dengan air mata. Air mata Maya hampir jatuh.
‘eh?,eh?,eh?, dimana salahnya?,masih kurang keras?’
Hari itu Maya diam sampai dia tiba di kamarnya, lalu mengecek hp. Dia masih menahan air matanya turun. Dia mencari kontak kak Ayu. Tetapi, kak Ayu tiba tiba menelpon dengan suara rendah.
“Halo Maya, maya, maaf, maaf Maya”
“Kenapa kak?”
“Kamu boleh bersedih, tapi kenyataannya akan selalu begini.”
“Maksudnya kak? udah gausah becanda kak.” Maya menahan air mata agar tidak jatuh
“Kamu engga juara 1 di kompetisi, kamu nomor 2, yang artinya di penyisihan Internasional kamu ga masuk.”
“EH? HAH? ”
“Maya, halo? halo?
“Maaf kak, maya lumayan capek.” Maya mematikan telponnya
Hancur.
Kepalaku pusing, aku butuh istirahat.
Kak Ayu menelpon kembali, dia memberitahu Maya, jika dia sudah ada di depan rumahnya. Maya membukakan pintu dengan senyuman palsu.
“Silahkan ka.k”
Maya mengecek hpnya nya berbunyi terus sejak tadi. Maya tidak sengaja melihat beberapa pesan yang menyakiti hatinya.
“Haaaah,
iya aku tau aku engga beguna, aku cuma anak sombong tanpa prestasi,” gumamnya
“Haaah, ga berusaha? aku? iya loh, aku cuma main main terus tanpa belajar.”
“Kenapa? Kenapa?
Kenapa?”
Air mata ku jatuh, aku tidak kuat lagi.
“Kenapa
harus aku?!!”
“Aku selalu berusaha mati-matian!, aku selalu berusaha jadi yang terbaik,
kenapa bukan aku?”
“Memangnya kalian tahu apa?!!”
“Aku selalu berusaha!”
“Tapi aku tidak bisa menang, entah itu di akademik atau bakat!!”
“Aku sudah berusaha keras di keduanya.
Tapi kenapa aku yang gagal mendapatkan hasil.”
“Tidak perduli seberapa gigih aku berjuang, berusaha, bekerja keras, sekeras
apapun usahaku hasilnya tetap nol
besar, semuanya percuma….”
Suaraku mulai melemah. Aku sudah mengeluarkan semuanya. Kak Ayu memeluk erat tubuhku dan menepuk kepalaku
“cup, cup, cup.” Kak ayu menenangkan ku, lalu dia melepas pelukannya.
“Maya, percayalah, ga ada yang sia-sia didunia ini. Apapun yang kamu lakukan dengan sekuat tenaga pasti ada hasilnya. Maya yang kakak kenal itu pantang menyerah dan selalu melakukan lebih. Sejak kapan Maya berubah jadi orang yang suka membandingkan hasil mMya dengan orang lain? Pencapaian Maya dengan pencapaian orang lain tentu berbeda. Maya engga suka kan kalo porsinya Maya di samain sama oranglain. Maya boleh sedih, tapi engga boleh membandingkan hasil Maya dengan oranglain, karena itu ga akan ada habisnya.”
Kata-kata dari kak Ayu nyaman sekali.
‘ah, kak Ayu benar, porsiku berbeda dengan orang lain, dan semua kerja kerasku tidak percuma, semuanya akan ada hasilnya sendiri. Aaahhh, aku malu dengan diriku sendiri’
“Oiya
maya, kakak sekarang akan tinggal dirumahmu ini loh, orang tuamu yang meminta,
katanya mereka takut kamu merasa kesepian, bolehkan?”
“eh??, iyaaa boleh kok.”
SEKALI LAGI, HAL BURUK PASTI AKAN SELALU DI BARENGI HAL BAIK. SELALU.